August 17, 2012

Part 1: Lamaara Aradhana

RED VELVET CAKE

----------------------------------------------------------------------------------------------------

Part 1


Good morning, Bandung!” seru seorang gadis. Seruannya sontak membuat beberapa pasang mata menatapnya dengan bingung. Menyadari volume suaranya yang berlebihan, sang gadis hanya membalasnya dengan senyum, tanpa rasa bersalah sedikitpun. Seharusnya, setelah kurang lebih 20 jam perjalanan udara yang baru saja ia tempuh menimbulkan efek jetlag. Gadis itu harus melakukan beberapa kali transit (Bayangkan, dari Bandara Dulles-Los Angeles-Narita-Changi-Soetta-sampai akhirnya, Bandung!), yang tentu saja menguras banyak energi. Apalagi, selama setengah perjalanan ia habiskan dengan menangis. 
Gadis itu, Lamaara Aradhana. Entah sudah berapa tahun berlalu sejak terakhir kali Maara menginjakkan kakinya di Bandung. Selama ini, dia menghabiskan masa kecilnya di Virginia, Amerika Serikat, bersama sang nenek. Hidup jauh terpisah dari orangtuanya membuat Maara terbiasa mengurus dirinya sendiri, dan tentu saja, menjaga neneknya yang sangat ia sayangi. Toh, tinggal sama Mama-Papa keadaannya nggak akan jauh beda. Mereka pasti sibuk ngurusin kerjaan, pikir Maara. 
Tapi semandiri apapun Maara, ia benar-benar merindukan rumah yang penuh kehangatan dari orangtua dan adiknya, Shylah Aradhana. Walaupun terpisah jarak (jarak ribuan kilometer dan umur), bukan berarti memisahkan kedekatan mereka. Maara dan Shylah selalu keep in touch, lewat Yahoo! Messenger, Skype, bahkan iseng bertukar surat atau paket. Seperti saat Valentine lalu, Maara mengirimkan floral dress Topshop untuk Shylah.
Sambil mendengarkan For Pessimist, I’m Pretty Optimistic - Paramore lewat iPod touch-nya, Maara berjalan, menarik 2 koper besarnya menuju pintu keluar Bandara Internasional Hussein Sastranegara. Disana, dia melihat seorang  gadis memakai dress floral Topshop yang tak asing. Tepat setelah itu, sang gadis menolehkan kepalanya yang mungil dan melihatnya.
“Kak Maara!” seru sosok gadis semampai, rambut hitam lurusnya yang digerai teracak dihembus angin tatkala ia berlari menuju Maara.
“Shylah! Finally, i’m home!” seru Maara, tak kalah heboh, memeluk Shylah dengan sayang.
Yes, and welcome to Bandung! Kakak nggak jetlag, nih? Kok masih semangat aja?” Shylah tertawa.
“Harus semangat dong! Tapi... sekarang aja rasanya aku pengen balik ke rumah Nenek, kalo-kalo nggak harus nempuh perjalanan selama itu. By the way, mana Mama dan Papa? Mereka nggak ikut jemput Maara?”
Shylah terdiam. Dalam raut mukanya tersirat sedikit kesedihan.  “Yah, Kakak tau kan Mama-Papa akhir-akhir ini sibuk sekali. Sebenarnya tadi pagi mereka udah siap-siap jemput Kakak, tapi kemudian ada meeting mendadak yang nggak bisa mereka tinggalin. Yuk Kak, kita pulang, biar Shylah bantu bawa kopernya.”
Geez, batin Maara gondok. Bahkan, demi jemput Maara aja Mama Papa nggak sempet?

***

            Walau masih sedikit kesal, senyum manis terlukis di bibir kecil Maara. Ia tidak ingin merusak hari pertama sekolah di Bandung. Pagi-pagi sekali, Maara sudah siap memakai seragam sekolahnya di Virginia dulu, kemeja pendek putih berdasi dengan bordir keemasan di sakunya. Rok highwaist pendek merah hatinya sedikit berkibar diterpa angin. Rambutnya yang ikal kecoklatan digerainya begitu saja. Tak lupa, ia memakai topi pet marun, serta stocking putih dan sepatu oxford hitam. Shylah sudah berangkat mendahuluinya, ada jam ke-nol katanya. 
           Maara menghela nafas. Bahkan di hari pertama Maara harus berangkat sendirian, batinnya. Diraihnya tas bahu Topshopnya, dan dengan setengah berlari, Maara bergegas menuju mobil hitam yang sudah menunggunya.

 ***

            Waktu telah berlalu, Maara sudah selesai mengelilingi sekolah dengan beberapa Pengurus Kesiswaan.
            Tidak ada yang lebih menarik perhatiannya selain bangunan itu, yang dikelilingi kaca dan dinding putih. Walaupun terlihat mendominasi, tidak ada kesan kotor sedikitpun. Bangunan dua lantai—sepanjang yang bisa Maara lihat—lantai pertama berupa foodcourt, dengan sofa-sofa coklat susu yang terlihat nyaman. Sedangkan di lantai dua, entahlah, Maara tidak sempat mendongak untuk melihat karena para Pengurus Kesiswaan harus menyelesaikan tugas utamanya dulu: mengenalkan Maara tentang seluk-beluk area BIS ini.
            Damita Askanah, salah satu Pengurus Kesiswaan, sedari tadi menahan senyum menyadari Maara yang seringkali kecolongan curi-curi pandang ke bangunan putih itu. 
            “Lamaara, ikut aku yuk. Hari ini kamu belum ada kelas kan?”
            Maara mengernyit. “Kita mau kemana, Kak Damita?”
            “Ke tempat yang bikin kamu nengok-nengok ke belakang terus.”
            Maara tertawa.
“Yah, segitu jelasnya ya Maara bisa ditebak? Kalo kesana, Maara mau banget!”
Giliran Damita yang tertawa. “Yaudah, buruan yuk. Ntar kalo kelamaan disini, kamu bisa nggak puas ngerecokin orang-orang disana.”

***

Sampailah mereka berdua di depan bangunan putih itu. Dari luar, sudah tercium aroma penganan yang sanggup membuat perut Maara bergolak dan liurnya menari-nari, menyusup keluar dari mulutnya. Dengan cepat dan bersemangat, Maara mengekori Damita memasuki gedung tersebut.
Dilihat-lihat, ternyata dindingnya dibuat dari bata yang diaci dan dilapis semen putih, sehingga membuat pola khas menonjol di keseluruhan permukaannya. Lantainya dilapisi parket, serat kayu kecoklatan memberi nuansa hidup dan hangat. Lalu, berjejerlah kedai di setiap sisinya, kurang lebih berukuran 2x2 meter persegi, terdapat tudung coklat dan nama kedai dari ukiran kayu diatasnya. Di tengah ruangan, kursi dan meja bergaya vintage berjejer rapi.
“Sebenarnya gedung ini adalah gedung khusus untuk siswa jurusan kuliner, Maar, yang digabung sama cafetaria. Cafetaria di bawah, kelasnya diatas. Kelas kuliner sendiri termasuk salah satu jurusan yang paling diminatin di BIS, lho. Selama 3 tahun pengajaran, kalian nggak cuma diajarin masak tapi juga bisnis kuliner dan food-photography. Dan sebelum lulus kalian harus bikin project khusus. Semacam persiapan kuliah gitu studinya. Rada berat sih, karena kamu harus dobel sama kelas primer, tapi asiknya dijamin!” ujar Damita, masih terkikik melihat tampang excited Maara.
“Hmm, pantesan di angket tadi ada 2 poin pilihan kelas, jadi ini maksudnya ya Kak. So next, shall we go upstairs? Maara boleh lihat kelas kulinernya, Kak?”
“Yuk. Aku denger mereka lagi garap project ultah sekolah. Mungkin Maara tertarik?”
Dan mereka berduapun naik ke lantai dua. Disana, mata Maara benar-benar dimanjakan. Oven-oven besar, meja luas, rapi dan bersih. Benar-benar nyaman. Maara sempat melihat beberapa siswa lalu-lalang menggunakan chapron coklat muda dengan bandana atau tutup kepala.
Maara sudah menyusun jadwal untuk esok pagi: menandatangani angket penjurusan dengan tanda centang besar di kotak kelas kuliner. Dengan mantap.

***

to be continued



Long, long, ago



Yeah, after a long, long, long hiatus, finally its me again . I've been physically and mentally busy; keeping my mind work and imagine all the time to distracted so I'm not drowning in sadness.


Actually, now I'm on project to post some short stories I made since I was in junior high... Gotta be lots of fun, and exciting in here and there.. Well, I'll upload soon after this post.





Yours,


Nadya.

I'm going back to the start.

Sedikit tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini bisa begitu rindu masa-masa itu. Yes, junior high. There's too much to share, too much memories. Evertime and everywhere. Especially, him.
Entah kenapa, aku masih bisa mengingat beberapa kejadian yang.... dulu sekali, di setiap waktu, kupikir bakal terjadi. Betapa waktu itu aku wasting time banget, tapi dalam jangka satu tahun, segalanya berbalik dengan cepat. And we're getting closer, and closer.

i still remember how you dancing in the rain, with your fooball team. your dark blue jersey, black tumbler. it was December.
i still remember the first time you hold my hand and says, "Trust me."
i still remember how bad you worried when i'm sick
i still remember you're the only one i can stay up late at night to have a long, dearing call
i still remember you teach me history, and i teach you math
i found it hard to debate you
i still remember you give me that Manchester United t-shirt as my birthday gift
i still remember we had a not-so-called double date on saturday night
i still remember the last time we meet, you cares my hair.

Terimakasih untuk tiga tahunnya, hujan-bintang, Troy. You'll never be replaced in my heart.

May 12, 2012

"Close your eyes and make believe this is where you want to be. Forgetting all the memories, try to forget love cause love’s forgotten me. Well hey, hey baby, it’s never too late pretty soon you won’t remember a thing. And I’ll be distant, the stars reminiscing.Your heart’s been wasted on me."

I should have known. This is the end of our vain journey. Just stop wasting your time around. You gonna find someone better, and it isn't me fits you perfectly. 

May Giveaway

Who doesn't loves giveaway??? Let's join Nixie Pyrena May Giveaway! 


Win this shopping vouchers at June+Julia for TWO luckiest people (hope me the lucky one) by following this rules:




To join this giveaway: 
1. Follow The Endless Wishlist via GFC and Twitter HERE (She's going to mention your name on twitter if you are one of the lucky winner!) 
2. Leave a comment below her blog, please include your name, twitter account and email (if you dont have twitter, just put your name and email) 


For extra entries: 
1. Tweeting about this giveaway, TWEET: "Join The Endless Wishlist Giveaway to win Rp 250,000 or $25 shopping vouchers at June and Julia ! http://nixiepyrena.blogspot.com/2012/05/brown-june-and-julia-shopping-vouchers.html cc: @EndlessWishlist" (+1 entry per tweet) 
please don't forget to mention her twitter @EndlessWishlist so she can add more entry for you. You can tweet as many as you want :) 
2. Share this giveaway on your blog (please give her the link of your post in the comment so she can check it) (+1 entry) 

3. Follow The Endless Wishlist Bloglovin HERE (+1 entry) 

This giveaway will be CLOSED on 22nd of May 2012.

So, what are you waitin' for? JOIN NOWW!

April 9, 2011

What's the Matter?

    Well, lately my mood has been messed up by such kinda things I shouldn't bother at all. I'm really sorry guys, for being sooooooooo annoying these last 3 days :( I'm just... a bit confused. And under pressure. And... sad.

    Today, I saw him walking along the schoolyard. With his friends, of course. But, when I stole a look at him, I didn't see the smile, the happiness that he always shown. The cheers, and the.. shortly, all the things that he used to be. Gone.
    Maybe just my expectation, just my thought, my feeling. I'm not sure. 

    I hope God always give him happiness, and bless. If he's happy, so do I. Just that simple.

April 5, 2011

Haunted House Fest.

    Hey, I'm back guys! Cuma pengen share cerita, baru-baru ini aku & temen-temen main ke Haunted House Fest. Awalnya cuma penasaran gara-gara Thalia yang udah duluan kesana, dan ceritanya seru banget. Jadi deh, Sabtu, 26 Maret kemaren berangkat ke HHF.

   Nyampe disana jam 4, dan untung banget masih agak lengang. Langsung aja kita beli tiket (terusan, Obake & Lawang Sewu) dan antri masuk di Obake. Berhubung pada (agak nggak) berani, kita ngerayu mas-masnya yang ngecapin tangan biar bisa masuk berenam. Berbagai upaya dilakukan, apa daya masnya pelit jadinya sia-sia. Masnya bilang, maksimal 3 orang yang masuk. Yaudah, kloter pertama (aku, Anggi, Keke) masuk duluan.



   Baruuuuu juga masuk ruangan pertama, Anggi udah njerit-njerit. Saking takutnya aku cuma ngakak nggak jelas doang. Nah, berhubung si ganteng perkasa Keke yang di depan juga takut (sampe nggak bisa liat jalannya. Oh, maksudnya gara-gara gelap) akhirnya mas-mas yang baik hati nawarin diri buat jadi guide.
   
   Lanjut, sepanjang jalan, si Keke yang mesra banget gondelan terus sama si mas guide cuma diem dan nengok kanan-kiri, sama sekali nggak komen apa-apa, si Anggi gondelan aku sambil teriak-teriak, dan demi apa aku cuman ngakak terus, sambil bilang ke hantunya: "Mas jangan megang ya!!! Jangan ngikutin!!!" Jadi, kesimpulannya aku sama Anggi di dalem berisik banget-_-


   Aku nggak sempet liat banyak hantunya, cuma beberapa dan yang paling jelas itu mbak (atau mas?) yang muncul dari kolam, kuntilanak yang ngikutin Anggi, sama pocong di ujung jalan. Kayaknya si pocong salah gaul deh.

   Kita bertiga masuk Obake itu cepet banget, nggak ada lima menit hahahaha mungkin berkat mas guide-nya jadi hantunya nggak macem-macem. Jadi sedikit....rugi. Sedikit.


   Selesai itu, kita nunggu kloter kedua keluar. Beneranlah, mereka lamaaaaaa banget. Dan begitu keluar.....bhahahaha sumpah ngakak banget, pada misuh-misuh terutama si Dimbes, terus sandalnya Robert copot-_- kalo si Aryok-nya cuma ngakak, campuran lega sama takut kayaknya :B 



   Nah, berhubung kloter kedua & Keke ngultimatum: Nggak mau masuk yang Lawang Sewu, dan yang penasaran cuma aku sama Anggi tapi nggak berani masuk kalo cuma berdua, akhirnya dengan berat hati kita udahan, nggak ngelanjutin lagi dan mutusin buat ngamplas aja.

   A bit dissapointed, but that was the most koplak-satnite deh hahahaha.



   




   Special thanks for: Keke, Anggi, Aryok, Robert, dan Dimbes yang udah mau nemenin satnite-HHF-ngamplas ;)